<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>STARLIGHT</title>
	<link>http://bintangku.blogsome.com</link>
	<description>tentang rasa yang tak bisa diungkapkan</description>
	<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 03:27:39 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Kengen nge-blog&#8230;..</title>
		<link>http://bintangku.blogsome.com/2009/11/06/kengen-nge-blog/</link>
		<comments>http://bintangku.blogsome.com/2009/11/06/kengen-nge-blog/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 03:27:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangku</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
	<category>life</category>
	<category>Catatan Hati</category>
		<guid>http://bintangku.blogsome.com/2009/11/06/kengen-nge-blog/</guid>
		<description><![CDATA[	Fiuh&#8230; rasanya udah lama banget nggak ngluarin sampah-sampah yang ada di otak ku di blog tercintaku ini. Gimana kabar Si starlighttercintamemoritiadaduanya? Selama ini aku selingkuhin si blog ini dengan FB dan juga Twitter. Dan sekarang saatnyalah aku kembali merangkai kata demikata di atas nya.
	Semua itu juga disebabkan aku nya yang sibuk nulis proyek bareng Sino.
	Sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Fiuh&#8230; rasanya udah lama banget nggak ngluarin sampah-sampah yang ada di otak ku di blog tercintaku ini. Gimana kabar Si starlighttercintamemoritiadaduanya? Selama ini aku selingkuhin si blog ini dengan FB dan juga Twitter. Dan sekarang saatnyalah aku kembali merangkai kata demikata di atas nya.</p>
	<p>Semua itu juga disebabkan aku nya yang sibuk nulis proyek bareng <a href="http://sinosaurus.blogspot.com">Sino.</a></p>
	<p>Sebuah proyek nulis bareng. Dari sebelum puasa, kita udah rencanain idepenulisan bareng ini. Dan proyek ini akhirnya kita namakan dengan proyek asem, lantaran bener-bener bikin asem dah ni proyek. Tapi setelah dipikir-pikir kok nggak enak di denger, jadi kita ubah namanya menjadi proyek &quot;Lintang&quot;, biar bercahaya kayak lintang alias bintang (lebai mode on) ahahaha.&nbsp;</p>
	<p>Berhubung baru awal-awal, semangat nulis pun meluncur, ide utama cerita, kerangka penulisan per bab,pembagian tulisan, chatting durjana buat ngembangin ide, nulis, diskusi bareng, cari referensi, cari inspirasi,chat lagi, nulis lagi.&nbsp;</p>
	<p>Kebetulan aku yang kebagian nulis bab 1, aku ngebut nulis dan selesai dalam waktu 2 minggu lebih. setelah edit sana,edit sini naskah pun kukirim via e-mail ke Sino. Yes kalo begini caranya kayaknya bakalcepet kelar nih satu judul dengan cepat, secara yang ngerjain dua kepala.Aku terus optimistis hingga 1 minggu, 2 minggu, 3 minggu,dan sebulan berlalu. Nggak ada konfirmasi sama sekali. Huft&#8230; nggak sabar, aku langsung konfirm ke dia.</p>
	<p>&quot;No,gimana tulisannya?&quot; tanyaku.</p>
	<p>&quot;Duh Nov sori, aku belum dapet ide,&quot; jawabnya enteng.</p>
	<p>&quot;What?? Trus mau sampai kapan?&quot;</p>
	<p>&quot;Lebih baik kita urusin proyek nulis kita sendiri-sendiri dulu deh.&quot; jawabnya singkat.</p>
	<p>Ke optimisanku langsung runtuh begitu aja tanpa permisi. Semangat ku hilang, ke mana api yang meluap-luap sepertipertama menjalankan proyek ini? Akhirnya kok jadi males juga, dan akhirnya larinya ke FB dan Twitter&#8230;</p>
	<p>&nbsp;</p>
	<p>Mungkin ada baiknya aku meneruskan kembali menulis proyek pribadiku. Lebih cepat lebih baik,LANJUTKAN!!!! Yeah you can do it Nova (nyemangatin diri sendiri). Ganbatte,vielglueck!!!!</p>
	<p>&nbsp;</p>
	<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangku.blogsome.com/2009/11/06/kengen-nge-blog/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Tompi- Aku Jatuh Cinta</title>
		<link>http://bintangku.blogsome.com/2009/10/21/tompi-aku-jatuh-cinta/</link>
		<comments>http://bintangku.blogsome.com/2009/10/21/tompi-aku-jatuh-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 07:04:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangku</dc:creator>
		
	<category>LIRIK</category>
		<guid>http://bintangku.blogsome.com/2009/10/21/tompi-aku-jatuh-cinta/</guid>
		<description><![CDATA[	Hari ini aku telah jatuh cinta
	Tak kan mampu aku menyangkalnya
	Jatuh cinta kepadamu&#8230; 
	Sosok yang sering menjengkelkan aku 
	Sering menggangguku 
	Kau permainkan rasa hatiku 
	Namun kini aku berbalik, jatuh cinta dan bernyanyi
	lalala lalala lalala lalalalalala lalala
	&nbsp;
	**Aku jatuh cinta kepada dirimu orang yang tak pernah kubayangkan
	&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tak pernah kumimpikan untuk bisa menjadi pacarku
	&nbsp;
	Malam ini aku berniat untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Hari ini aku telah jatuh cinta</p>
	<p>Tak kan mampu aku menyangkalnya</p>
	<p>Jatuh cinta kepadamu&#8230; </p>
	<p>Sosok yang sering menjengkelkan aku </p>
	<p>Sering menggangguku </p>
	<p>Kau permainkan rasa hatiku </p>
	<p>Namun kini aku berbalik, jatuh cinta dan bernyanyi</p>
	<p>lalala lalala lalala lalalalalala lalala</p>
	<p>&nbsp;</p>
	<p>**Aku jatuh cinta kepada dirimu orang yang tak pernah kubayangkan</p>
	<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp; Tak pernah kumimpikan untuk bisa menjadi pacarku</p>
	<p>&nbsp;</p>
	<p>Malam ini aku berniat untuk mengatakan rasa cintaku </p>
	<p>Semoga tanganku berjodoh untuk bertepuk dengan cintamu </p>
	<p>&nbsp;</p>
	<p>Aku jatuh cinta kepada dirimu orang yang tak pernah kubayangkan</p>
	<p>Tak pernah kumimpikan untuk bisa menjadi pacarku&#8230;.</p>
	<p>Jadi pacarku&#8230;jadi pacarku </p>
repeat **
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangku.blogsome.com/2009/10/21/tompi-aku-jatuh-cinta/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Protected: Bertahan</title>
		<link>http://bintangku.blogsome.com/2009/09/27/bertahan/</link>
		<comments>http://bintangku.blogsome.com/2009/09/27/bertahan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Sep 2009 08:49:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangku</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
	<category>Catatan Hati</category>
		<guid>http://bintangku.blogsome.com/2009/09/27/bertahan/</guid>
		<description><![CDATA[There is no excerpt because this is a protected post.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<form action="http://bintangku.blogsome.com/wp-pass.php" method="post">
	<p>This post is password protected. To view it please enter your password below:</p>
	<p><label>Password: <input name="post_password" type="password" size="20" /></label> <input type="submit" name="Submit" value="Submit" /></p>
	</form>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangku.blogsome.com/2009/09/27/bertahan/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Catatan Dari Tempat Paling Sunyi di Dunia</title>
		<link>http://bintangku.blogsome.com/2009/07/15/catatan-dari-tempat-paling-sunyi-di-dunia/</link>
		<comments>http://bintangku.blogsome.com/2009/07/15/catatan-dari-tempat-paling-sunyi-di-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Jul 2009 02:54:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangku</dc:creator>
		
	<category>Uncategorized</category>
	<category>Catatan Hati</category>
		<guid>http://bintangku.blogsome.com/2009/07/15/catatan-dari-tempat-paling-sunyi-di-dunia/</guid>
		<description><![CDATA[	&gt;&gt;Di sini, telah banyak kutorehkan jejak, luka, duka, suka, dan  bahagia bersama mereka. Namun kini tempat ini tak lagi sama kurasa. Ada satu  keanehan yang tiba-tiba mencuat dari dalam diriku yang kini telah merasuki tiap  celah-celah pikiran dan jiwaku, yang membuatku harus memberi jarak pada  mereka&#8211;yang selama ini telah menorehkan jejak, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div>&gt;&gt;Di sini, telah banyak kutorehkan jejak, luka, duka, suka, dan  bahagia bersama mereka. Namun kini tempat ini tak lagi sama kurasa. Ada satu  keanehan yang tiba-tiba mencuat dari dalam diriku yang kini telah merasuki tiap  celah-celah pikiran dan jiwaku, yang membuatku harus memberi jarak pada  mereka&#8211;yang selama ini telah menorehkan jejak, luka, duka, suka, dan bahagia  bersamaku&#8211;bahkan mungkin memberi jarak pada diriku sendiri. Tapi bagaimana  mungkin ini bisa terjadi dengan tiba-tiba seperti ini?</p>
	<p>&gt;&gt;Barangkali  aku telah berubah menjadi sosok yang tak lagi mengenal ataupun kukenal. Sosok  yang tak lagi terbuka menerima jalan yang memang sudah seharusnya. Mungkin dari  sinilah muncul sebuah hal yang pada akhirnya disebut dengan perpisahan. Tapi  perpisahan terhadap apa? Terhadap orang-orang di sekitar atau bahkan perpisahan  terhadap diri sendiri?</p>
	<p>&gt;&gt;Setelah semua benar-benar terjadi,  mungkin aku akan sendirian. Gamang, takut, aku takut ditinggalkan oleh  mereka&#8211;yang telah menorehkan jejak, luka, duka, suka, dan bahagia  bersamaku&#8211;tapi&#8230;tunggu!!! Bukankah  selama ini mereka lebih sering meninggalkanku?  AAARRRGGGHHH&#8230;&#8230;!!!!!!</p>
	<p>&gt;&gt;Apa? Apa yang kbutuhkan dari kehadiran  mereka selain untuk mengusir semua rasa takutku akan kesendirian yang mendera?  Aku tahu, aku tahu arti kehadiran mereka lebih dari itu. Aku selama ini  memutuskan untuk bersama mereka karena ku telah menemukan keutuhan diri yang  telah terefleksi dan bukan semata-mata untuk mencari keramaian belaka untuk  mengusir ketakutanku akan kesepian.</p>
	<p>&gt;&gt;Orang bilang hidup adalah  pilihan. Namun pilihanku tak banyak, hanya tinggal memilih untuk bertahan dengan  tetap bisa&#8211;menorehkan jejak, luka, duka, suka, dan bahagia bersama mereka&#8211;atau  memilih untuk berbalik dan pergi. Aku tahu salah satu dari pilihan itu akan  menjadi indah nantinya. Bertahan atau pergi, berhenti atau mengalir, statis atau  bergerak, apapun itu kuyakin akan indah jika ku yakin, jika memang tepat, dan  jika pada waktunya.</p>
	<p>&gt;&gt;Mungkin dari titik inilah aku tahu hatiku, di  dini hari, di fajar yang belum menyingsing, di embun yang menyembul. Hening.  Kosong. Tak lagi seberagam warna-warni lengkung busur pelangi ataupun tak lagi  semenarik senja dengan cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-meganya. hanya  tinggal polos. Biasa.</p>
	<p>&gt;&gt;Perlahan-lahan, kurasa tak ada lagi aliran  hangat yang sedari tadi mengalir dari beningnya mata. Kurasa kekosongan hatiku  kini pun telah mendera mataku, mengisap seluruh airnya hingga mengering. Lantas  bagaimana aku bisa tahu aku masih punya hati atau tidak karena konon jika  seseorang masih bisa mengeluarkan air mata maka orang itu masih punya hati. ah  sudahlah, toh hatiku hening, kosong, polos, biasa saja, jadi tak perlu air  mata.</p>
	<p>&gt;&gt;Lalu bias ini pun membelah, memecah, indah, walaupun aku  memutuskan untuk berbalik pergi sendiri. Mencari pantai persinggahan dengan  senja yang bagus, ombak, angin, matahari, nyiur, pasir yang hangat, air laut  yang jernih hingga ku dapat melihat hingga ke dasarnya yang penuh karang cantik  yang dibalut dengan ombak yang berdesis syahdu nan damai&#8230;lalu kutenggelam  dalam pesona indah alam yang nyaman dan damai, dan aku pun tak berbalik tuk  kembali.</p>
	<p>PS: Phiuh&#8230;Di mana ku dapat temukan tempat damai seperti  itu????</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangku.blogsome.com/2009/07/15/catatan-dari-tempat-paling-sunyi-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Sepotong Senja untuk Pacarku</title>
		<link>http://bintangku.blogsome.com/2009/06/29/sepotong-senja-untuk-pacarku/</link>
		<comments>http://bintangku.blogsome.com/2009/06/29/sepotong-senja-untuk-pacarku/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 03:12:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bintangku</dc:creator>
		
	<category>Review,Rol</category>
		<guid>http://bintangku.blogsome.com/2009/06/29/sepotong-senja-untuk-pacarku/</guid>
		<description><![CDATA[	Ketka aku mulai menyuki senja untuk pertama kali, aku teringat akan salah satu karya Seno Gumira Ajidarma yang juga begitu menyukai senja, ini terlihat dari banyak karyanya yang tak lepas dari senja itu sendiri, dan salah satu karyanya yang aku sukai adalah Septong Senja untuk Paarku ini yang merupakan Cerpen Pililihan Kompas 1993
	* * * [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Ketka aku mulai menyuki senja untuk pertama kali, aku teringat akan salah satu karya Seno Gumira Ajidarma yang juga begitu menyukai senja, ini terlihat dari banyak karyanya yang tak lepas dari senja itu sendiri, dan salah satu karyanya yang aku sukai adalah Septong Senja untuk Paarku ini yang merupakan <em>Cerpen Pililihan Kompas 1993</em></p>
	<p align="center">* * *    </p>
	<p>Alina tercinta,<br />    Bersama surat ini kukirimkan padamu sepotong senja&ndash;dengan angin, debur ombak, matahari terbenam, dan cahaya keemasan. Apakah kamu menerimanya dalam keadaan lengkap?</p>
 <a id="more-137"></a>
<p>Seperti setiap senja di setiap pantai, tentu ada juga burung-burung, pasir yang basah, siluet batu karang, dan barangkali juga perahu lewat di jauhan. Maaf, aku tidak sempat menelitinya satu persatu. Mestinya ada juga lokan, batu yang berwarna-warni, dan bias cahaya cemerlang yang berkeretap pada buih yang bagaikan impian selalu saja membuat aku mengangankan segala hal yang paling mungkin kulakukan bersamamu meski aku tahu semua itu akan tetap tinggal sebagai kemungkinan yang entah kapan menjadi kenyataan.</p>
	<p>Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekedar kata-kata.</p>
	<p>Sudah terlalu banyak kata di dunia ini Alina, dan kata-kata, ternyata, tidak mengubah apa-apa. Aku tidak akan menambah kata-kata yang sudah tak terhitung jumlahnya dalam sejarah kebudayaan manusia Alina.</p>
	<p>Untuk apa? Kata-kata tidak ada gunanya dan selalu sia-sia. Lagi pula siapakah yang masih sudi mendengarnya? Di dunia ini semua orang sibuk berkata-kata tanpa peduli apakah ada orang lain yang mendengarnya. Bahkan mereka juga tidak peduli dengan kata-katanya sendiri. Sebuah dunia yang sudah kelebihan kata-kata tanpa makna. Kata-kata sudah luber dan tidak dibutuhkan lagi. Setiap kata bisa diganti artinya. Setiap arti bisa diubah maknanya. Itulah dunia kita Alina.</p>
	<p>Kukirimkan sepotong senja untukmu Alina, bukan kata-kata cinta. Kukirimkan padamu sepotong senja yang lembut dengan langit kemerah-merahan yang nyata dan betul-betul ada dalam keadaan yang sama seperti ketika aku mengambilnya saat matahari hampir tenggelam ke balik cakrawala.</p>
	<p>Alina yang manis, Alina yang sendu, Akan kuceritakan padamu bagaimana aku mendapatkan senja itu untukmu.</p>
	<p>Sore itu aku duduk seorang diri di tepi pantai, memandang dunia yang terdiri dari waktu. Memandang bagaimana ruang dan waktu bersekutu, menjelmakan alam itu untuk mataku. Di tepi pantai, di tepi bumi, semesta adalah sapuan warna keemasan dan lautan adalah cairan logam meski buih pada debur ombak yang menghempas itu tetap saja putih seperti kapas dan langit tetap saja ungu dan angin tetap saja lembab dan basah, dan pasir tetap saja hangat ketika kuusapkan kakiku ke dalamnya.</p>
	<p>Kemudian tiba-tiba senja dan cahaya gemetar.<br />    Keindahan berkutat melawan waktu dan aku tiba-tiba teringat padamu.<br />    &ldquo;barangkali senja ini bagus untukmu,&rdquo; pikirku. Maka kupotong senja itu sebelum terlambat, kukerat pada empat sisi lantas kumasukkan ke dalam saku. Dengan begitu keindahan itu bisa abadi dan aku bisa memberikannya padamu.</p>
	<p>Setelah itu aku berjalan pulang dengan perasaan senang. Aku tahu kamu akan menyukainya karena kamu tahu itulah senja yang selalu kamu bayangkan untuk kita. Aku tahu kamu selalu membayangkan hari libur yang panjang, perjalanan yang jauh, dan barangkali sepasang kursi malas pada sepotong senja di sebuah pantai di mana kita akan bercakap-cakap sembari memandang langit sambil berangan-angan sambil bertanya-tanya apakah semua ini memang benar-benar telah terjadi. Kini senja itu bisa kamu bawa ke mana-mana.</p>
	<p>Ketika aku meninggalkan pantai itu, kulihat orang-orang datang berbondong-bondong, ternyata mereka menjadi gempar karena senja telah hilang. Kulihat cakrawala itu berlubang sebesar kartu pos.</p>
	<p>Alina sayang,<br />    Semua itu telah terjadi dan kejadiannya akan tetap seperti itu. Aku telah sampai ke mobil ketika di antara kerumunan itu kulihat seseorang menunjuk-nunjuk ke arahku.</p>
	<p>&ldquo;Dia yang mengambil senja itu! Saya lihat dia mengambil senja itu!&rdquo;</p>
	<p>Kulihat orang-orang itu melangkah ke arahku. Melihat gelagat itu aku segera masuk mobil dan tancap gas.</p>
	<p>&ldquo;Catat nomernya! Catat nomernya!&rdquo;</p>
	<p>Aku melejit ke jalan raya. Kukebut mobilku tanpa perasaan panik. Aku sudah berniat memberikan senja itu untukmu dan hanya untukmu saja Alina. Tak seorang pun boleh mengambilnya dariku. Cahaya senja yang keemasan itu berbinar-binar di dalam saku. Aku merasa cemas karena meskipun kaca mobilku gelap tapi cahaya senja tentu cukup terang dilihat dari luar. Dan ternyata cahaya senja itu memang menembus segenap cahaya dalam mobilku,sehingga mobilku itu meluncur dengan nyala cemerlang ke aspal maupun ke angkasa.</p>
	<p>Dari radio yang kusetel aku tahu, berita tentang hilangnya senja telah tersebar ke mana-mana. Dari televisi dalam mobil bahkan kulihat potretku sudah terpampang. Aduh. Baru hilang satu senja saja sudah paniknya seperti itu. Apa tidak bisa menunggu sampai besok? Bagaimana kalau setiap orang mengambil senja untuk pacarnya masing-masing? Barangkali memang sudah waktunya dibuat senja tiruan yang bisa dijual di toko-toko,dikemas dalam kantong plastik dan dijual di kaki lima. Sudah waktunya senja diproduksi besar-besaran supaya bisa dijual anak-anak pedagang asongan di perempatan jalan.</p>
	<p>&ldquo;Senja! Senja! Cuma seribu tiga!&rdquo;</p>
	<p>Di jalan tol mobilku melaju masuk kota.Aku harus hati-hati karena semua orang mencariku. Sirene mobil polisi meraung-raung di mana-mana. Cahaya kota yang tetap gemilang tanpa senja membuat cahaya keemasan dari dalam mobilku tidak terlalu kentara. Lagi pula di kota, tidak semua orang peduli apakah senja hilang atau tidak. Di kota kehidupan berjalan tanpa waktu, tidak peduli pagi siang sore atau malam. Jadi tidak pernah penting senja itu ada atau hilang. Senja cuma penting untuk turis yang suka memotret matahari terbenam. Boleh jadi hanya demi alasan itulah senja yang kubawa ini dicari-cari polisi.</p>
	<p>Sirene polisi mendekat dari belakang. Dengan pengeras suara polisi itu memberi peringatan.</p>
	<p>&ldquo;Pengemudi mobil Porsche abu-abu metalik nomor SG 19658 A, harap berhenti. Ini Polisi. Anda ditahan karena dituduh telah membawa senja. Meskipun tak ada aturan yang melarangnya, tapi berdasarkan&hellip;&rdquo;</p>
	<p>Aku tidak sudi mendengarnya lebih lama lagi. Jadi kubilas dia sampai terpental keluar pagar tepi jalan. Kutancap gas dan menyelip-nyelip dengan lincah di jalanan. Dalam waktu singkat kota sudah penuh raungan sirene polisi. Terjadi kejar-kejaran yang seru.Tapi aku lebih tahu seluk-beluk kota, jalanan dengan cahaya yang bernmain warna, gang-gang gelap yang tak pernah tercatat dalam buku alamat, lorong-lorong rahasia yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang di bawah tanah.</p>
	<p>Satu mobil terlempar di jalan layang, satu mobil lain tersesat di sebuah kampung, dan satu mobil lagi terguling-guling menabrak truk dan meledak lantas terbakar.Masih ada dua polisi bersepeda motor mengejarku. Ini soal kecil. Mereka tak pernah bisa mendahuluiku, dan setelah kejar-kejaran beberapa lama, mereka kehabisan bensin dan pengendaranya cuma bisa memaki-maki. Kulihat senja dalam saku bajuku. Masih utuh. Angin berdesir. Langit semburat ungu. Debur ombak menghempas ke pantai. Hanya padamulah senja ini kuserahkan Alina.</p>
	<p>Tapi Alina, polisi ternyata tidak sekonyol yang kusangka. Di segenap sudut kotak mereka telah siap siaga. Bahkan aku tak bisa membeli makanan untuk mengisi perutku. Bahkan di langit tanpa senja, helikopter mereka menyorotkan lampu di setiap celah gedung bertingkat. Aku tersudut dan akhirnya nyaris tertangkap. Kalau saja tidak ada gorong-gorong yang terbuka.</p>
	<p>Mobilku sudah kutinggal ketika memasuki daerah kumuh itu. Aku berlari di antara gudang, rumah tua,tiang serta temali. Terjatuh di atas sampah, merayapi tangga-tangga reyot, sampai seorang gelandangan menuntunku ke suatu tempat yang tak akan pernah kulupakan dalam hidupku.</p>
	<p>&ldquo;Masuklah,&rdquo; katanya tenang, &ldquo;disitu kamu aman.</p>
	<p>Ia menunjuk gorong-gorong yang terbuka itu. Ada tikus keluar dari sana. Banya bacin dan pesing. Kutengok ke bawah. Kulihat kelelawar bergantungan. Aku ragu-ragu.Namun deru helikopter dengan lampu sorotnya yang mencari-cari itu melenyapkan keraguanku.</p>
	<p>&ldquo;Masuklah, kamu tidak punya pilihan lain.&rdquo;</p>
	<p>Dan gelandangan itu mendorongku. Aku terjerembab jatuh. Bau busuknya bukan main. Gorong-gorong itu segera tertutup dan kudengar gelandangan itu merebahkan diri di atasnya. Lampu sorot helikopter menembus celah gorong-gorong tapi tak cukup untuk melihatku. Kurabah senja dalam kantongku, cahayanya yang merah keemas-emasan membuat aku bisa melihat dalam kegelapan. Aku melangkah dalam gorong-gorong yang rupanya cukup tinggi juga. Kusibukkan kelelawar bergantungan yang entah mati entah hidup itu. Kulihat cahaya putih di ujung gorong-gorong. Air busuk mengalir setinggi lutut, namun makin ke dalam makin surut. Di tempat yang kering kulihat anak-anak gelandangan duduk-duduk maupun tidur-tiduran, mereka berserakan memeluk rebana dengan mata yang tidak memancarkan kebahagian.</p>
	<p>Aku berjalan terus melangkahi mereka dan coba bertahan. Betapa pun ini lebih baik daripada harus menyerahkan senja Alina.</p>
	<p>Di ujung gorong-gorong,di temapt cahaya putih itu, ada tangga menurun ke bawah. Kuikuti tangga itu. Cahaya semakin terang dan semakin benderang. Astaga. Kamu boleh tidak percaya Alina, tapi kamu akan terus membacanya. Tangga itu menuju ke mulut sebuah gua, dan tahukah kamu ketika aku keluar dari gua itu aku ada di mana? Di tempat persisi sama dengan tempat di mana aku mengambil senja itu untukmu Alina. Sebuah pantai dengan senja yang bagus:ombak,angin,dan kepak burung?tak lupa cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-mega yang berarak bagaikan aliran mimpi. Cuma saja tidak ada lubang sebesar kartu pos. Jadi, meskipun persis sama,tapi bukan tempat yang sama.</p>
	<p>Aku berjalan ke tepi pantai. Tenggelam dalam guyuran alam yang perawan. Nyiur tentu saja, matahari, dan dasat lautan yang bening dengan lidah ombak yang berdesis-desis. Tak ada cottage , tak ada barbeque, tak ada marina.</p>
	<p>&ldquo;semua itu memang tidak perlu. Senja yang bergetar melawan takdir membiaskan cahaya keemasan ke tepi semesta. Aku sering malu sendiri melihat semua itu. Alina, apakah semua itu mungkin diterjemahkan dalam bahasa?&rdquo;</p>
	<p>Sambil duduk di tepi pantai aku berpikir-pikir, untuk apakah semua ini kalau tidak ada yang menyaksikannya? Setelah berjalan ke sana ke mari aku tahu kalau dunia dalam gorong-gorong ini kosong melompong. Tak ada manusia, tak ada tikus, apalagi dinosaurus. Hanya burung yang terkepak, tapi ia sepertinya bukan burung yang bertelur dan membuat sarang. Ia hanya burung yang dihadirkan sebagai ilustrasi senja. Ia hanya burung berkepak dan berkepak terus disana. Aku tak habis pikir Alina, alam seperti ini dibuat untu apa? Untuk apa senja yang bisa membuat seseorang ingin jatuh cinta itu jika tak ada seekor dinosaurus pun menikmatinya? Sementara di atas sana orang-orang ribut kehilangan senja&hellip;.</p>
	<p>Jadi, begitulah Alina, kuambil juga senja itu. Kukerat dengan pisau Swiss yang selalu kubawa, pada empat sisinya, sehingga pada cakrawala itu terbentuk lubang sebesar kartu pos. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan aku melangkah pulang. Bumi berhenti beredar di belakangku, menjadi kegelapan yang basah dan bacin. Aku mendaki tangga kembali menuju gorong-gorong bumiku yang terkasih.</p>
	<p>Sampai di atas, setelah melewati kalelawar bergantungan,anak-anak gelandangan berkaparan, dan air setinggi lutut, kulihat polisi-polisi helikopter sudah pergi. Gelandangan yang menolongku sedang tiduran di bawah tiang listrik sambil meniup saksofon.</p>
	<p>Aku berjalan mencari mobilku. Masih terparkir dengan baik di supermarket. Nampaknya bahkan baru saja dicuci. Sambil mengunyah pizza segera kukebut mobilku menuju pantai. Dengan dua senja di saku kiri dan kanan, lengkap dengan matahari,laut,pantai, dan cahaya keemasannya masing-masing, mobilku bagai memancarkan cahaya Ilhai. Sepanjang jalan layang, sepanjang jalan tol, kutancap gas dengan kecepatan penuh&hellip;</p>
	<p>Alina kekasihku, pacarku, wanitaku.<br />    Kamu pasti sudah tahu apa yang terjadi kemudian. Kupasang senja yang dari gorong-gorong pada lubang sebesar kartu pos itu dan ternyata pas. Lantas kukirimkan senja yang ?asli? ini untukmu, lewat pos.</p>
	<p>Aku ingin mendapatkan apa yang kulihat pertama kali: senja dalam arti yang sebenarnya?bukan semacam senja yang ada di gorong-gorong itu.</p>
	<p>Kini gorong-gorong itu betul-betul menjadi gelap Alina. Pada masa yang akan datang orang-orang tua akan bercerita pada cucunya tentang kenapa gorong-gorong menjadi gelap.Meraka akan berkisah bahwa sebenarnya ada alam lain di bawah gorong-gorong dengan matahari dan rembulannya sendiri, namun semua itu tida lagi karena seorang telah mengambil senja untuk menggantikan senja lain di atas bumi. Orang-orang tua itu juga akan bercerita bahwa senja yang asli telah dipotong dan diberikan oleh seseorang kepada pacarnya.</p>
	<p>Alina yang manis, paling manis, dan akan selalu manis, Terimalah sepotong senja itu, hanya untukmu, dari seseorang yang ingin membahagiakanmu. Awas hati-hati dengan lautan dan matahari itu, salah-salah cahayanya membakar langit dan kalau tumpah airnya bisa membanjiri permukaan bumi.</p>
	<p>Dengan ini kukirimkan pula kerinduanku padamu, dengan cium, peluk, dan bisikan terhangat, dari sebuah tempat yang paling sunyi di dunia.</p>
	<p><em><br />   </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bintangku.blogsome.com/2009/06/29/sepotong-senja-untuk-pacarku/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
