Apakah semua orang membutuhkan yang satu ini? Aku rasa ya. Kalo bagiku, tanpa adanya shoulder to cry on, mungkin kepalaku bisa pecah ketika tak ada yang bisa ijadikan tempat "sampah" untuk hal-hal yang menggangguku. Mungkin ini juga yang dirasakan oleh dua orang sahabatku. Evlina.
Sejak lama nggak pernah bertemu karena kesibukan masing-masing, akhirnya bulan ini kita bisa bertemu. Lebih tepatnya dia sengaja menemuiku ke rumah. aku bertanya-tanya ada apakah dia bisa tiba-tiba ke rumah. Secara terakhir kali dia ke rumah waktu 3 bulan lalu. Itupun kita nggak ketemu karena aku ada di Malang.
Dia datang dengan wajah yang bisa dibilang nggak cerah. Wah pasti ada sesuatu. Yah…memang dia punya masalah dan itu sebabnya dia datang padaku yang merupakan shoulder to cry on untuknya (menurutnya lho). Berhubung tak bisa dibicarakan di rumahku yang secara waktu itu lagi ada keluarga ngumpul, akhirnya kita mutusin buat ke tempat favorit kita.
Setelah di sana, tanpa terbendung lagi, dia langsung mengutarakan isi hatinya padaku. Wah…betapa terkejutnya kau begitu mendengar ceritanya. Entah benar entah salah jika pada saat itu aku merasa tersanjung karena mendapat kehormatan untuk menjadi orang pertama yang diberitahu masalah sebesar itu. Masalah yang tanpa bisa kuduga bisa menimpanya.
sekarang tinggal bagaimana solusinya. Aku tak tau pasti apa yang mesti aku kasih tau ke dia. Yang jelas saat itu aku hanya berkata : Lakukan apa yang menurutmu benar, tanpa harus menambah satu kesalahan lagi. Dia hanya menangis tersedu. Duh… apa yang harus kulakukan agar bisa menenangkannya? Refleks, aku memeluknya dan bukannya berhenti tangisnya, malah dia menjadi-jadi.
"Emmm…besok dia akan ke rumah lagi dan ingin mendapat solusi lg dari kami, aku dan sahabatku yang lain. Tuhan, apa yang harus aku beritahu padanya???