>>Barangkali aku telah berubah menjadi sosok yang tak lagi mengenal ataupun kukenal. Sosok yang tak lagi terbuka menerima jalan yang memang sudah seharusnya. Mungkin dari sinilah muncul sebuah hal yang pada akhirnya disebut dengan perpisahan. Tapi perpisahan terhadap apa? Terhadap orang-orang di sekitar atau bahkan perpisahan terhadap diri sendiri?
>>Setelah semua benar-benar terjadi, mungkin aku akan sendirian. Gamang, takut, aku takut ditinggalkan oleh mereka–yang telah menorehkan jejak, luka, duka, suka, dan bahagia bersamaku–tapi…tunggu!!! Bukankah selama ini mereka lebih sering meninggalkanku? AAARRRGGGHHH……!!!!!!
>>Apa? Apa yang kbutuhkan dari kehadiran mereka selain untuk mengusir semua rasa takutku akan kesendirian yang mendera? Aku tahu, aku tahu arti kehadiran mereka lebih dari itu. Aku selama ini memutuskan untuk bersama mereka karena ku telah menemukan keutuhan diri yang telah terefleksi dan bukan semata-mata untuk mencari keramaian belaka untuk mengusir ketakutanku akan kesepian.
>>Orang bilang hidup adalah pilihan. Namun pilihanku tak banyak, hanya tinggal memilih untuk bertahan dengan tetap bisa–menorehkan jejak, luka, duka, suka, dan bahagia bersama mereka–atau memilih untuk berbalik dan pergi. Aku tahu salah satu dari pilihan itu akan menjadi indah nantinya. Bertahan atau pergi, berhenti atau mengalir, statis atau bergerak, apapun itu kuyakin akan indah jika ku yakin, jika memang tepat, dan jika pada waktunya.
>>Mungkin dari titik inilah aku tahu hatiku, di dini hari, di fajar yang belum menyingsing, di embun yang menyembul. Hening. Kosong. Tak lagi seberagam warna-warni lengkung busur pelangi ataupun tak lagi semenarik senja dengan cahaya keemasan dan bias ungu pada mega-meganya. hanya tinggal polos. Biasa.
>>Perlahan-lahan, kurasa tak ada lagi aliran hangat yang sedari tadi mengalir dari beningnya mata. Kurasa kekosongan hatiku kini pun telah mendera mataku, mengisap seluruh airnya hingga mengering. Lantas bagaimana aku bisa tahu aku masih punya hati atau tidak karena konon jika seseorang masih bisa mengeluarkan air mata maka orang itu masih punya hati. ah sudahlah, toh hatiku hening, kosong, polos, biasa saja, jadi tak perlu air mata.
>>Lalu bias ini pun membelah, memecah, indah, walaupun aku memutuskan untuk berbalik pergi sendiri. Mencari pantai persinggahan dengan senja yang bagus, ombak, angin, matahari, nyiur, pasir yang hangat, air laut yang jernih hingga ku dapat melihat hingga ke dasarnya yang penuh karang cantik yang dibalut dengan ombak yang berdesis syahdu nan damai…lalu kutenggelam dalam pesona indah alam yang nyaman dan damai, dan aku pun tak berbalik tuk kembali.
PS: Phiuh…Di mana ku dapat temukan tempat damai seperti itu????
Malam ini aku memutuskan untuk menyusuri jalan yang hampir sama dengan yang kulalui tahun lalu. Hampir mirip. Bedanya, it’s bigger than before. Itu artinya jalan ini lebih punya resiko yang besar pula jika aku melaluinya. Namun, aku tak akan bergeming sedikitpun walau nanti ada hambatan yang pasti datang.
Kini aku berada di tepi jalan itu, lebih tepatnya, di persimpangan jalan itu. Sekelebat, bayangan kabur masa lalu dan masa kini, serta semua yang telah aku alami hingga saat ini pun berbaur. Potongan-potongan gambar itupun datang seperti slide presentasi yang siap ditunjukkan lagi padaku. Untuk sekedar evaluasi.
Di samping itu, aku mulai berpikir, apakah aku akan bisa melaluinya? Kata seorang teman, kamu adalah apa yang kamu pikirkan. Dengan begitu, aku akan berpikir jika aku haruslah berpikir aku bisa. Orang lain bisa mengapa aku tidak?
Lampu-lampu di tengah jalan yang akan aku lalui ini, cahayanya remang-remang, mungkinkah keremangan ini akan mampu menerangiku hingga aku mencapai ujung jalan ini? Atau mereka malah tak akan mampu menyinariku, kemudian redup? Entah, karena aku bukanlah ahli lampu yang tahu kapan lampu itu akan berhenti menerangiku. Lalu bagaimana jika mereka berhenti menerangi jalanku? Apa aku akan berhenti dan menyerah? Atau aku mencari sumber cahaya lain? Tapi di mana? Atau aku harus membuat cahaya sendiri agar aku dapat terus melaju di jalan ini? Sepertinya cara terakhir yang aku tempuh, karena, bagiku, siapa lagi yang akan membantu diriku untuk terus melaju jika bukan berawal dari diriku?
Mobil lalu lalang, tanpa henti, layaknya orang-orang berlalu lalang dalam kehidupanku. Mereka tak henti dan bahkan tak pernah berhenti untuk keluar masuk hidupku. Tapi apakah mereka peduli dengan keberadaanku yang sama-sama sedang melalui jalanan? Mereka berpikir aku lemah, karena jalanku tertatih, namun aku tak selemah yang mereka pikirkan. Yang lain berpikir jika aku kuat, karena terus berjalan hingga nantinya mencapai tujuan di jalan ini. Tapi aku tak sekuat yang mereka pikirkan. Aku bingung…
Namun, satu yang pasti, aku akan terus mengusahakannya, tanpa mau menemui jalan yang sama dengan yang kemarin. jalan b***u. Aku tak mau. Aku mau jalan ku kali ini menemui akhir yang baik dan terang di sana…AMIIN…
terakhir aku hanya bisa berkata…. im bigger than my body….yeah…
One Crazy Day….huhhhh…
Semua berawal dari sebuah rencanaku dengan Doni untuk pergi keluar. Hari Minggu Doni telepon buat ngajak ke rumah Flow hari Senin. Rencana kita atur, mulai dari tempat ketemuan, entar ke mana aja, sampe rencana pulang jam berapa.
(more…)Ada orang yang bilang kalo orang pendek itu punya jarak otak dan perut yang dekat, akibatnya jadi sering BAB. Sepertinya aku mengalaminya. Pasalnya dalam sehari aku bisa ke toilet sampai 3 kali sehari. Kalah minum obat. Sampai-sampai aku dijuluki ratu WC atau kadang malah dipanggil preman Wc. wah separah itukah diriku?
(more…)